Archive for October, 2009

Skala Wentworth

Posted in Geologi with tags , , , on October 20, 2009 by rachelyanna

Skala Wentworth (oleh Uden Wentworth tahun 1922) digunakan dalam pengklasifikasian batuan sedimen khususnya batuan sedimen klastik berdasarkan ukuran butir-butir penyusun batuan.

02_f07

Skala klasifikasi batuan sedimen klastik oleh Wentworth, 1922

Wentworth

Perbandingan pengkalsifikasian batuan sedimen

Advertisements

Batuan Sedimen

Posted in Geologi with tags , , on October 20, 2009 by rachelyanna

Sedimentary Rocks (batuan sedimen) adalah batuan yang terbentuk dari litifikasi (kompaksi dan sementasi) material-material hasil pelapukan batuan yang telah terangkut (oleh media air, angin, es) dan diendapkan dalam suatu cekungan. Batuan sedimen memiliki tekstur berupa fragmen dan struktur yang berlapis.

Batuan sedimen dan sedimen hanya mengisi 0,029% dari total volume bumi, namun tersebar secara merata pada permukaan bumi dan merupakan dua per tiga batuan yang berada di atas permukaan bumi.

dipping_beds

Dipping lapisan batuan sedimen, Rocky Mountains, Canada

(sumber:physicalgeography.net)


Batuan-batuan Sedimen

Batupasir120px-SandstoneUSGOV

Lanausiltstone

Batulempunglempung2

KongklomeratBatu%20Konglomerat

Breksi180px-PO-breccia

Rijang180px-ChertUSGOVjpg

BatugampingBAtu%20Gamping

Dolomit (dolostone)250px-Dolomit_z_brochantytem_Maroko

Batubara200px-Coal_anthracite

GipsumGipsum

Fosforitfosforit

Bowen’s Reaction Series

Posted in Geologi with tags , , , on October 13, 2009 by rachelyanna

Seri Reaksi Bowen (Bowen Reaction Series) menggambarkan proses pembentukan mineral pada saat pendinginan magma dimana ketika magma mendingin, magma tersebut mengalami reaksi yang spesifik. Dan dalam hal ini suhu merupakan faktor utama dalam pembentukan mineral.

Tahun 1929-1930, dalam penelitiannya Norman L. Bowen menemukan bahwa mineral-mineral terbentuk dan terpisah dari batuan lelehnya (magma) dan mengkristal sebagai magma mendingin (kristalisasi fraksional). Suhu magma dan laju pendinginan menentukan ciri dan sifat mineral yang terbentuk (tekstur, dll). Dan laju pendinginan yang lambat memungkinkan mineral yang lebih besar dapat terbentuk.

Bowens

Dalam skema tersebut reaksi digambarkan dengan “Y”, dimana lengan bagian atas mewakili dua jalur/deret pembentukan yang berbeda. Lengan kanan atas merupakan deret reaksi yang berkelanjutan (continuous), sedangkan lengan kiri atas adalah deret reaksi yang terputus-putus/tak berkelanjutan (discontinuous).

1. Deret Continuous

Deret ini mewakili pembentukan feldspar plagioclase. Dimulai dengan feldspar yang kaya akan kalsium (Ca-feldspar, CaAlSiO) dan berlanjut reaksi dengan peningkatan bertahap dalam pembentukan natrium yang mengandung feldspar (Ca–Na-feldspar, CaNaAlSiO) sampai titik kesetimbangan tercapai pada suhu sekitar 9000C. Saat magma mendingin dan kalsium kehabisan ion, feldspar didominasi oleh pembentukan natrium feldspar (Na-Feldspar, NaAlSiO) hingga suhu sekitar 6000C feldspar dengan hamper 100% natrium terbentuk.

2. Deret Discontinuous

Pada deret ini mewakili formasi mineral ferro-magnesium silicate dimana satu mineral berubah menjadi mineral lainnya pada rentang temperatur tertentu dengan melakukan reaksi dengan sisa larutan magma. Diawali dengan pembentukan mineral Olivine yang merupakan satu-satunya mineral yang stabil pada atau di bawah 18000C. Ketika temperatur berkurang dan Pyroxene menjadi stabil (terbentuk). Sekitar 11000C, mineral yang mengandung kalsium (CaFeMgSiO) terbentuk dan pada kisaran suhu 9000C Amphibole terbentuk. Sampai pada suhu magma mendingin di 6000C Biotit mulai terbentuk.

Bila proses pendinginan yang berlangsung terlalu cepat, mineral yang telah ada tidak dapat bereaksi seluruhnya dengan sisa magma yang menyebabkan mineral yang terbentuk memiliki rim (selubung). Rim tersusun atas mineral yang telah terbentuk sebelumnya, misal Olivin dengan rim Pyroxene.

Deret ini berakhir dengan mengkristalnya Biotite dimana semua besi dan magnesium telah selesai dipergunakan dalam pembentukan mineral.

3. Apabila kedua jalur reaksi tersebut berakhir dan seluruh besi, magnesium, kalsium dan sodium habis, secara ideal yang tersisa hanya potassium, aluminium dan silica. Semua unsur sisa tersebut akan bergabung membentuk Othoclase Potassium Feldspar. Dan akan terbentuk mika muscovite apabila tekanan air cukup tinggi. Sisanya, larutan magma yang sebagian besar mengandung silica dan oksigen akan membentuk Quartz (kuarsa).

Dalam kristalisasi mineral-mineral ini tidak termasuk dalam deret reaksi karena proses pembentukannya yang saling terpisah dan independent.

Minerals

Posted in Geologi with tags , , on October 10, 2009 by rachelyanna

Mineral adalah suatu senyawa yang secara alami terbentuk melalui proses geologi. Disebut mineral apabila terbentuk secara alami di alam (bukan sintesis oleh manusia), tersusun dari senyawa anorganik, memiliki stuktur kimia dan mempunyai struktur tertentu, dan memiliki sifat fisik yang konsisten. Sifat fisik yang konsisten menyangkut kekerasan (hardness), bentuk, warna, belahan, dsb.

Pada umumnya kita sulit membandingkan antara batu dengan mineral, tetapi pada dasarnya batu/batuan terbentuk atau mengandung 2 atau lebih mineral dan mineral tidak terbuat dari batu.

Sifat Fisik Mineral :

  1. Warna
  2. Kekerasan
  3. Cerat
  4. Kilap
  5. Belahan
  6. Pecahan
  7. Bentuk
  8. Kemagnetan
  9. Sifat dalam
  10. Transparensi

Contoh Minerals :

  1. Talc240px-Talc_block
  2. Gypsum180px-GipsitaEZ
  3. Calcite200px-Calcite-HUGE
  4. Fluorite120px-Fluorite_octahedron
  5. Apatite240px-Apatite_crystals
  6. Orthoclase240px-Mineraly.sk_-_ortoklas
  7. Plagioclase180px-PlagioclaseFeldsparUSGOV
  8. Quartz (kuarsa)180px-QuartzUSGOV
  9. Topaz110px-Topaz-2
  10. Corundum180px-Corindon_azulEZ
  11. Diamond250px-Rough_diamond
  12. Piroxene180px-Peridot_in_basalt
  13. Hornblende240px-Amphibole
  14. Biotite180px-BiotitaEZ