Stratigrafi

Bumi, diprediksi telah ada sejak sekitar 4,6 milyar tahun lalu. Sejak saat itu hingga sekarang, Bumi, tidaklah tanpa perubahan. Bumi selalu berubah, bersifat dinamis, penuh gejala geologis. Dan sejarah Bumi tersebut, terekam dalam batuan-batuan penyusunnya. Seperti halnya halaman-halaman buku, lapisan-lapisan batuan mencatat sejarah peristiwa (geologis) yang terjadi ketika itu. Dan sejarah dalam batuan ini dapat diterjemahkan dalam suatu cabang ilmu; Stratigrafi. Mengacu pada Dictionary of Geology and Mineralogy, Second Edition oleh McGraw-Hill, stratigraphy [GEOL]; a branch of geology concerned with the form, arrangement, geographic distribution, chronologic succession, classification, correlation, and mutual relationships of rock strata, especially sedimentary. Stratigrafi dari bahasa Latin, ‘Stratum, dan Yunani, ‘Graphia’, adalah ilmu mengenai lapisan/strata batuan, komposisi, umur relatif, dan korelasi antar lapisan batuan, dalam hubungannya dengan sejarah Bumi. Dalam lingkup studi yang lebih lanjut lagi, stratigrafi dapat dibagi menjadi litostratigrafi, biostratigrafi, kronostratigrafi, dan magnetostratigrafi.

  1. Litostratigrafi; bagian ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan identifikasi batuan berdasarkan karakteristik litologi dan hubungan stratigrafinya.
  2. Biostratigrafi; bagian ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan identifikasi lapisan batuan/strata beserta hubungannya berdasarkan atas sebaran fosil di dalamnya.
  3. Kronostratigrafi; bagian ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan umur batuan dan penanggalan relatif.
  4. Magnetostratigrafi; bagian ilmu stratigrafi yang berkaitan dengan hubungan stratigrafi berdasarkan karakteristik magnetik dari batuan sedimen dan batuan beku.

Terdapat prinsip pokok dalam ilmu stratigrafi, yang juga merupakan prinsip dalam metode Penanggalan Relatif untuk penentuan waktu geologi, yaitu :

  1. Superposisi (Superposition); oleh Nicholas Steno (1638 – 1686); dalam suatu urutan batuan sedimen yang belum mengalami gangguan, batuan yang paling tua diendapkan paling bawah, sedangkan yang paling muda diendapkan paling atas.
  2. Horizontalitas (Original Horizontality); oleh Nicholas Steno (1638 – 1686); dalam proses sedimentasi, sedimen diendapkan sebagai lapisan horisontal.
  3. Kemenerusan Lateral (Lateral Continuity); oleh Nicholas Steno (1638 – 1686); sedimen diendapkan melampar secara horisontal ke segala arah, hingga menipis dan berakhir pada tepi cekungan pengendapan.
  4. Hubungan Potong-Memotong (Cross-Cutting Relationship); oleh James Hutton (1726 – 1797); adanya intrusi batuan beku atau patahan harus lebih muda dari batuan yang diintrusi atau batuan yang terpatahkan.
  5. Inklusi (Inclusion); suatu inklusi (fragmen batuan di dalam tubuh batuan lain) harus lebih tua dari batuan yang mengandung inklusi tersebut.
  6. Suksesi Biota (Faunal and Floral Succession); oleh William Smith (1769 – 1839); fosil yang berada pada lapisan batuan paling bawah adalah lebih tua daripada fosil yang berada pada lapisan paling atas.

stratigraphy_ms_encarta

Selain itu, terdapat satu prinsip yang bilamana terdapat hubungan urutan batuan yang tidak menerus, yang mengindikasikan adanya gangguan terhadap suatu masa proses pengendapan. Disebut sebagai prinsip Ketidakselarasan (Unconformity), sebagaimana terwujud sebagai bidang ketidakselarasan, yaitu suatu bidang ketidakmenerusan dalam urutan batuan karena adanya gangguan proses pengendapan dalam waktu yang relatif lama. Hilangnya urutan batuan berarti hilangnya rekaman waktu geologi, yang kemudian disebut sebagai Hiatus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: