Archive for the Geofisika Category

Akuisisi Data Seismik (Refleksi)

Posted in Geofisika, Minyak dan Gas Bumi with tags , , , on February 19, 2015 by rachelyanna

akuisisi

Akuisisi data seismik adalah tahapan survey guna mendapatkan data seismik berkualitas baik di lapangan. Sebagai tahap terdepan dari serangkaian survey seismik, data seismik yang diperoleh dari tahapan ini akan menentukan kualitas hasil tahapan berikutnya. Sehingga, dengan data yang baik akan membawa hasil pengolahan yang baik pula, dan pada akhirnya, dapat dilakukan interpretasi yang akurat, yang menggambarkan kondisi bawah permukaan sebagaimana mestinya.

Untuk memperoleh data berkualitas baik perlu diperhatikan berbagai macam persiapan, penentuan parameter-parameter lapangan yang sesuai. Penentuan parameter lapangan tersebut umumnya tidak sama, sesuai karakteristik dan kondisi daerah lokasi survey. Perlunya penentuan parameter ini dimaksudkan untuk menetapkan parameter awal dalam suatu rancangan survey akuisisi data seismik, yang dipilih sedemikian rupa, sehingga dalam pelaksanaannya akan diperoleh informasi target bawah permukaan selengkap mungkin dengan noise serendah mungkin.

Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi pada khususnya, sebelum melakukan akuisisi data, perlu untuk menentukan target yang akan dicapai, mengidentifikasikan terlebih dahulu permasalahan yang mungkin terjadi. Paling tidak ada delapan permasalahan yang perlu diselesaikan, antara lain :

  1. Kedalaman target (?)
  2. Kualitas refleksi batuan (?)
  3. Resolusi vertikal yang diperlukan (?)
  4. Besar kemiringan target tercuram (?)
  5. Ciri-ciri jebakan hidrokarbon sebagai target (?)
  6. Permasalahan noise yang khusus (?)
  7. Permasalahan logistik tim (?)
  8. Kemungkinan adanya suatu proses khusus yang diperlukan (?)

Dari permasalahan tersebut, jawabannya akan menentukan nilai dari parameter-parameter yang akan digunakan. Terdapat 15 parameter utama lapangan yang akan mempengaruhi kualitas data, yang juga perlu dipertimbangkan secara teknis dan ekonomis, yaitu :

1. Offset Terjauh (Far Offset); jarak antara sumber seismik dengan sensor penerima/receiver terjauh, yang didasarkan pada pertimbangan kedalaman sasaran paling dalam.

2. Offset Terdekat (Near Offset); jarak antara sumber seismik dengan sensor penerima terdekat, didasarkan pada pertimbangan kedalaman sasaran paling dangkal.

3. Group Interval; jarak antara satu kelompok sensor penerima/receiver dengan kelompok penerima berikutnya, dimana satu kelompok memberikan satu trace seismik sebagai stack/superposisi beberapa sensor penerima.

4. Ukuran Sumber Seismik (Charge Size); sumber seismik umumnya menggunakan peledak/dinamit atau vibroseis truck (untuk survey darat), atau air gun (untuk survey laut). Ukuran sumber seismik menyatakan ukuran energi yang dilepaskan oleh sumber seismik, yang disesuaikan dengan kedalaman target dan kualitas data yang baik yang dapat dipertahankan.

5. Kedalaman Sumber (Charge Depth); sumber seismik sebaiknya ditempatkan di bawah lapisan lapuk, sehingga energi sumber seismik dapat ditransfer secara optimal ke dalam sistem pelapisan medium di bawahnya.

6. Kelipatan Cakupan (Fold Coverage); merupakan jumlah suatu titik di bawah permukaan yang terekam oleh perekam di permukaan. Semakin besar kelipatannya, maka kualitas data akan semakin baik.

7. Laju pencuplikan (Sampling Rate); laju pencuplikan akan menentukan batas frekuensi maksimum seismik yang masih dapat direkam dan direkontruksi dengan baik sebagai data, dimana frekuensi yang lebih besar dari batas akan menimbulkan aliasing.

8. Tapis Potong Bawah (Low-Pass Filter); merupakan filter pada instrumen perekam untuk memotong amplitudo frekuensi gelombang seismik/trace yang rendah.

9. Frekuensi Perekam; merupakan karakteristik instrumen perekam dalam merespon suatu gelombang seismik.

10. Panjang Perekaman (Record Length); merupakan lamanya waktu perekaman gelombang seismik yang ditentukan oleh kedalaman sasaran.

11. Rangkaian Penerima (Receiver Group); merupakan suatu kumpulan instrumen sensor penerima/receiver yang disusun sedemikian hingga, sehingga noise dapat diredam seminimal mungkin.

12. Panjang Lintasan; panjang lintasan survey ditentukan dengan mempertimbangkan luas sebaran/panjang target di bawah permukaan terhadap panjang lintasan survey di permukaan.

13. Larikan Bentang Penerima (Receiver Array); bentang penerima menentukan informasi kedalaman rambatan gelombang seismik, nilai kelipatan cakupan, dan alternatif skenario peledakan sumber seismik, seperti ketika lintasan melalui sungai yang lebar.

14. Arah Lintasan; ditentukan berdasarkan informasi studi pendahuluan terhadap target.

15. Spasi Antar Lintasan; jarak antar satu lintasan ke terhadap lintasan yang lain.

*

SISTEM PEREKAMAN

Geophone/Hydrophone

Metode seismik memanfaatkan fenomena rambat gelombang seismik, yang merupakan gelombang usikan mekanis yang menjalar dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui lapisan batuan bawah permukaan bumi. Gelombang ini dapat mengalami pemantulan oleh perlapisan batuan yang memiliki perbedaan densitas dan kecepatan dalam merambatkan gelombang, dan kemudian terekam sebagai fungsi waktu. Sebagai unit perekam fenomena seismik tersebut, dalam dunia seismik eksplorasi pada khususnya, digunakan suatu sensor perekaman/receiver khusus, yang juga jenisnya berbeda sesuai dengan daerah/lingkungan pengukuran. Untuk survey seismik darat, alat ini berupa geophone, dan untuk survey seismik laut berupa hydrophone.

Image (4)Fenomena pemantulan gelombang seismik.

Sensor geophone umumnya berjenis moving coil, yang bekerja atas prinsip fisika Hukum Lenz, yang berupa kumparan kawat yang bergerak di dalam medan magnet). Sedangkan hydrophone, sensornya berupa kristal piezo elektrik yang peka terhadap perubahan tekanan.

geofonSensor geophone.

hidrofonSensor hydrophone.

 

Multi Channel Digital Seismic Recorder

Sistem perekaman data lapangan terdiri dari satu sumber seismik dan banyak penerima, dimana gelombang-gelombang seismik terpantul (refleksi) tiba ke permukaan hampir bersamaan. Kondisi tersebut mengakibatkan perekaman dilakukan secara simultan, dengan suatu instrumen multiplexer. Multiplexer berfungsi sebagai pencuplik amplitudo gelombang, yang dengan mekanismenya berputar sangat cepat, mencuplik gelombang 1 dari penerima 1 ke 2, 3, dst, mencuplik gelombang 2 dari penerima 1,2,3, dst. Mekanisme tersebut menyebabkan amplitudo gelombang seismik tidak terekam berdasarkan urutan waktu/trace seismik, namun berdasarkan urutan posisinya. Hal ini pun akan menjadi permasalahan tersendiri, yang dalam tahapan Pengolahan Data Seismik dilakukan proses demultiplexing untuk mengatasinya.

Image (2)Mekanisme instrumen perekaman data seismik.

Melalui alat ini juga dilakukan pengaturan laju pencuplikan (sampling rate), sehingga data yang terekam terhindar dari gejala aliasing.

Amplifier Gelombang Seismik

Banyak faktor yang mempengaruhi perambatan gelombang seismik melalui medium bumi, sehingga mengakibatkan adanya pelemahan amplitudo yang akan menjadi sulit untuk direkam seiring bertambahnya waktu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dipergunakan instrumen penguat elektronik (amplifier) yang nilai penguatannya (gain) dapat diatur sesuai dengan bertambahnya waktu. Terdapat dua macam amplifier yang umumnya digunakan :

  • Binary Gain Amplifier, dimana penguatannya dapat diatur naik +6 dB (penguatan sekitar 12 kali) dan turun -6 (pelemahan sekitar 0,5 kali).
  • Automatic Gain Control (AGC), amplifier yang mampu menguatkan sinyal yang terlalu lemah, sekaligus melemahkan sinyal yang terlalu kuat, sesuai dengan batas dynamic range­-nya.

Formater; instrumen pemformat ini berfungsi untuk mengatur penempatan data di dalam pita magnetik.

*

MACAM-MACAM GANGGUAN/NOISE

Dalam segala survey seismik perlu diantisipasi adanya berbagai macam jenis gangguan-gangguan/noise yang mempengaruhi dan mengurangi kualitas data yang terekam. Berbagai macam noise tersebut dapat berupa :

1. Noise koheren; noise ini dapat diidentifikasi dalam bentuk pola-pola khusus gelombang yang terekam. Beberapa contoh noise yang koheren antara lain :

  • Ground Roll, terdapat di data seismik darat yang dicirikan dengan amplitudo yang kuat dan frekuensi yang rendah.
  • Multiple, umumnya terdapat pada data seismik laut dalam bentuk kenampakan refleksi sekunder akibat gelombang yang terperangkap.
  • Gelombang langsung (direct wave), dicirikan dengan frekuensi yang cukup tinggi dan dengan waktu datang (arrival time) lebih awal.

2. Noise tidak koheren; muncul pada rekaman data seismik dengan pola yang acak.

Sedangkan berdasarkan sumbernya, noise dapat dikategorikan sebagai berikut :

1. Shot-related (“Correlated”); merupakan noise yang ditimbulkan oleh energi dari sumber seismik itu sendiri, dimana secara umum noise ini akan muncul secara berulang ketika pengukuran yang sama dilakukan secara berulang pula, dan tidak akan muncul apabila tidak ada ledakan/sumber seismik yang diberikan.

2. Ambient (“Uncorrelated”); noise yang diakibatkan oleh energi dari gangguan-gangguan lingkungan di sekitar daerah pengukuran seperti angin, mesin, vegetasi, hewan, berbagai aktivitas manusia, dll. Noise ini akan selalu muncul walaupun tidak ada ledakan/sumber seismik yang diberikan.

3. Recording; noise yang muncul karena adanya masalah pada perlengkapan, seperti bad geophones, bad cables, noise bursts, electronic hum, spikes, dan gangguan pada amplifier.

noiseSumber noise seismik (kiri), dan noise dalam rekaman data seismik (kanan).

seissourceSekilas berbagai macam instrumen sumber seismik buatan.

.

.


<sumber:various; acuan utama dari handout metode seismik oleh prof.sismanto>

Advertisements

Pengolahan Data Seismik (Refleksi)

Posted in Geofisika, Minyak dan Gas Bumi with tags , , , on February 18, 2015 by rachelyanna

Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.

Pengolahan data seismik dilakukan melalui serangkaian tahapan-tahapan. Oleh karena geologi setiap medan survey seismik berbeda-beda, yang secara umum dapat dibedakan menjadi lingkungan laut (marine), lingkungan darat (land), dan transisi (transition), perbedaan ini akan menghasilkan data dengan karakteristik yang berbeda-beda dan akan menyebabkan tahapan-tahapan pengolahan data seismik pun berbeda-beda. Selain itu, urutan/tahapan dalam pengolahan data seismik juga dipertimbangkan atas dasar kualitas data lapangan yang terekam, hingga kemampuan/pengalaman orang yang mengerjakan, dan biaya.

Secara prinsip, tahapan dalam pengolahan data seismik dapat dikelompokkan dalam :

  • Pre Processing/Editing (Conditioning Data)
  • Main Processing
  • Post Processing

Secara garis besarnya, serangkaian tahapan pengolahan data seismik dapat disajikan sebagai berikut :

aDiagram alir tahapan Pengolahan Data Seismik secara umum.

 

1. Demultiplexing

Demultiplexing, suatu tahapan untuk mengatur kembali atau mengurutkan data berdasarkan kelompok trace/channel-nya. Gelombang seismik yang diterima oleh sensor geophone pada mulanya berbentuk analog, yang kemudian dilakukan sampling dan digitalisasi dengan menggunakan multiplexer pada interval tertentu saat perekaman berlangsung. Ketika sampling dimulai dari channel A hingga channel terakhir dan kembali ke channel A dan seterusnya, sehingga akan diperoleh sampel data 1 dari channel A, sampel data 1 channel B, hingga sampel 1 channel terkahir (n), dan kemudian terulang kembali untuk sampel data 2 dengan waktu sampling Δt.

demulti   Proses demultiplexing dari data berdasarkan sampling time ke berdasarkan trace.

 

2. Trace Gathering

Merupakan tahapan pengelompokan berdasarkan kesamaan dari masing-masing channel/trace. Pengelompokan tersebut dapat berupa :

  1. Common Source Point (CSP)
  2. Common Depth Point (CDP)
  3. Common Offset
  4. Common Receiver

cIlustrasi berbagai trace gathering beserta respon seismiknya.

 

3. Editing dan Muting

Tahapan editing merupakan tahapan untuk mengkoreksi amplitudo-amplitudo yang dianggap buruk pada setiap trace seismiknya. Sedangkan muting adalah tahapan untuk menghapus sinyal-sinyal gelombang langsung (direct wave) yang terekam selama pengukuran dan gelombang-gelombang refraksi yang tidak dibutuhkan.

dPerbedaan dari sebelum proses muting (gambar kiri) dan setelah proses muting (gambar kanan).

e

Gambar kiri: hasil proses editing, gambar kanan: sebelum proses editing.

 

4. Gain Recovery

Ketika perekaman berlangsung, data yang terekam telah diberikan penguatan (gain), namun dengan fungsi yang bersifat instantaneous floating point yang dapat menyebabkan adanya distorsi pada data. Fungsi penguatan tersebut kemudian dapat dikoreksi dengan cara mengalikan nilai-nilai trace seismik dengan inversi dari fungsi penguatan, dan nilai rata-rata amplitudo trace seismik dikalkulasi sebagai fungsi waktu, sehingga hasilnya dapat diketahui parameter-parameter fungsi penguatan yang baru.

Fungsi penguatan yang benar akan menghasilkan trace seismik dengan perbandingan amplitudo-amplitudo yang sesuai dengan perbandingan dari masing-masing koefisiensi refleksinya, sehingga akan mempermudah dalam interpretasi. Fungsi penguatan g(t) secara dapat dinyatakan sebagai :

Gain (dB) = A.t + B.20 log (t) + C

dimana t merupakan waktu, A sebagai faktor atenuasi, B sebagai faktor spherical divergence, dan C adalah nilai tetapan penguatan.

Dalam penerapannya, terdapat beberapa jenis penguatan, yaitu :

  • Programmed Gain Control (PGC); fungsi penguatan berdasarkan interpolasi antara nilai skalar amplitudo sampel pada laju sampling dengan satu window tertentu.
  • Automatic Gain Control (AGC); fungsi penguatan berdasarkan root mean square (RMS), dimana dikalkulasikan RMS dari kuadrat amplitudo di tiap sampel pada satu window tertentu.

 

5. Koreksi Statik

Koreksi static dilakukan untuk mengembalikan waktu penjalaran gelombang seismik yang bergeser karena adanya perbedaan ketinggian antara sumber seismik dan geophone. Selain itu juga karena adanya lapisan lapuk dengan ketebalan yang bervariasi, sekaligus cepat rambat gelombang yang variatif dalam lapisan lapuk tersebut. Koreksi static ini dilakukan sedemikian hingga sumber seismik dan penerima/geophone berada pada satu garis horisontal (datum), sehingga dapat diperoleh bentuk refleksi yang kurang lebih sesuai dengan kenyataannya dan diperoleh sinyal yang sefase yang saling memperkuat pada saat proses stacking dilakukan.

fGambar kanan : hasil koreksi static, gambar kiri : data sebelum koreksi static.

 

6. Filtering

Definisi data dalam geofisika adalah suatu hasil pengukuran terhadap suatu objek dimana data belum mengalami proses/pengolahan dan masih mengandung sinyal dan gangguan (noise). Sinyal adalah data yang membawa informasi dari objek yang diukur, sedangkan noise merupakan data yang mengganggu hasil pengukuran dan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pengukuran.

Dalam seismik refleksi, data lapangan yang terekam juga mengandung sinyal dan noise. Untuk menghilangkan noise tersebut dan untuk memperkuat sinyal maka dilakukan tahapan filtering. Filter yang biasa digunakan dalam tahap ini antara lain :

a. Filter Frekuensi (1D); filter yang bekerja meredam noise frekuensi tertentu. Filter frekuensi berupa :

  • Low Pass Filter
  • Hi-Pass Filter
  • Band Pass Filter
  • Notch Filter

gBerbagai jenis filter frekuensi 1D.

b. Filter F-K (2D); filter yang digunakan untuk meredam noise frekuensi tertentu yang sama dengan frekuensi sinyal data namun dengan bilangan gelombang yang berbeda.

 

7. Dekonvolusi

Gelombang seismik yang merambat dari sumber seismik melalui medium akan mengalami konvolusi hingga terekam oleh geophone. Oleh karena itu, medium (bumi) memiliki sifat filtering terhadap energi gelombang seismik, sehingga mengakibatkan wavelet seismik dari sumber seismik yang semula tajam dan memiliki amplitudo tinggi (dalam fungsi waktu) menjadi lebih lebar, dengan amplitudo yang berkurang.

Dekonvolusi merupakan tahapan untuk melakukan koreksi terhadap efek filter bumi tersebut sehingga diperoleh hasil dimana wavelet yang terekam dapat dikembalikan menjadi tajam dan dengan amplitudo yang tinggi.

hModel konsep konvolusi.

 

8. Normal Move Out

Koreksi Normal Move Out (NMO) merupakan tahapan yang diterapkan guna mengkoreksi adanya efek yang disebabkan oleh jarak offset antara sumber gelombang seismik dengan geophone pada suatu trace yang berasal dari satu CMP (Common Mid Point) atau CDP (Common Depth Point). Oleh karena efek tersebut, maka untuk satu titik CMP atau CDP akan terekam oleh sejumlah penerima sebagai garis lengkung (hiperbola). Dengan menerapkan koreksi NMO ini maka gelombang pantul yang terekam akan seolah-olah datang dalam arah vertikal (normal incident), sehingga dalam tahap stacking berikutnya akan diperoleh hasil yang maksimal.

iKonsep koreksi NMO pada CMP gather.

 

9. Stacking

Stacking merupakan proses penjumlahan trace seismik dalam satu gather data yang bertujuan untuk meningkatkan S/N ratio. Setelah semua trace dilakukan koreksi-koreksi, maka dalam format CDP gather setiap refleksinya menjadi horisontal, dan apabila trace-trace yang telah menjadi horisontal tersebut dilakukan stacking dalam tiap-tiap CDP maka akan mampu meningkatkan S/N ratio.

jKonsep staking pada CMP gather.

 

10. Analisa Kecepatan

Dengan analisa kecepatan akan diketahui nilai kecepatan yang sesuai dan cukup akurat untuk menentukan kedalaman, ketebalan, kemiringan dari suatu reflektor. Namun, nilai kecepatan suatu medium akan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti litologi batuan, tekanan, suhu, porositas, densitas, kandungan fluida, umur batuan, ukuran butir, dan frekuensi gelombang itu sendiri.

Pada grup trace dari suatu titik pantul, sinyal refleksi yang dihasilkan akan mengikuti bentuk pola hiperbola. Sehingga secara prinsipnya, analisa kecepatan adalah mencari persamaan hiperbola yang tepat sehingga menghasilkan nilai kecepatan yang sesuai, dan pada tahap stacking berikutnya akan diperoleh hasil maksimum.

 

11. Migrasi

Proses migrasi pada penerapannya merupakan satu tahapan alternatif dalam proses pengolahan data seismik, namun proses migrasi pada umumnya diperlukan karena perumusan pemantulan yang diturunkan pada CMP berasumsi pada model lapisan datar (persamaan gelombang Snellius), sehingga apabila terdapat reflektor miring maka letak titik-titik CMP akan bergeser. Oleh karena itu, proses migrasi memiliki tujuan untuk memindahkan kedudukan reflektor pada posisi dan waktu pantul yang sebenarnya, berdasarkan lintasan gelombang. Selain itu, proses migrasi juga mampu untuk menghilangkan efek difraksi gelombang yang muncul sebagai akibat dari adanya struktur-struktur seperti patahan, lipatan, dll, sehingga dapat memperjelas gambaran struktur bawah permukaan secara lebih detail.

Migrasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, yaitu :

  • Metode Kirchoff
  • Metode F-K
  • Metode Beda-Hingga (finite-differece)
  • Metode Reverse Time

Melalui proses migrasi akan diperoleh beberapa parameter yang berbeda sebagai koreksi, antara lain :

  • Migrasi memperbesar sudut kemiringan
  • Migrasi memperpendek reflektor
  • Migrasi memindahkan reflektor ke arah up-dip
  • Migrasi memperbaiki resolusi vertikal

kPerbedaan sebelum dilakukan proses migrasi (a), dan sesudah proses migrasi (b).

.

.


<sumber:various, acuan utama dari handout metode seismik oleh prof.sismanto>

Metode Seismik Refleksi

Posted in Geofisika with tags , , , on February 16, 2015 by rachelyanna

Metode seismik refleksi merupakan metode geofisika aktif yang memanfaatkan sumber seismik buatan (dapat berupa ledakan, pukulan, dll). Setelah gelombang buatan tersebut diberikan, maka gelombang tersebut akan merambat melalui medium tanah/batuan di bawah permukaan, dimana perambatan gelombang tersebut akan memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan maupun pembiasan sebagai akibat dari adanya perbedaan kecepatan ketika melalui pelapisan medium yang berbeda. Pada jarak tertentu di permukaan, gerakan partikel tersebut direkam sebagai fungsi waktu. Berdasarkan data rekaman tersebut selanjutnya dapat diperkirakan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan.

Bumi sebagai medium rambat gelombang seismik tersusun dari perlapisan batuan yang memiliki sifat fisis yang berbeda-beda, terutama sifat fisis densitas batuan (ρ) dan cepat rambat gelombang (v). Sifat fisis tersebut adalah sifat fisis yang mempengaruhi refleksivitas seismik. Dengan berdasar konsep tersebut sehingga dapat dilakukan perkiraan bentuk lapisan/struktur bawah permukaan. Penerapan konsepnya kemudian disebut sebagai Impedansi Akustik, dimana sebagai karekteristik akustik suatu batuan dan merupakan perkalian antara densitas dan cepat rambat gelombang pada medium, yang dinyatakan sebagai :1 Apabila terdapat dua lapisan batuan yang saling berbatasan dan memiliki perbedaan nilai impedansi akustik, maka refleksi gelombang seismik dapat terjadi pada bidang batas antara kedua lapisan tersebut. Besar nilai refleksi yang terjadi kemudian dinyatakan sebagai Koefisien Refleksi :2

3Skema pemantulan gelombang seismik pada batas dua medium berbeda nilai AI-nya.

Koefisien refleksi menunjukkan perbandingan amplitudo (energi) gelombang pantul dan gelombang datang, dimana semakin besar amplitudo seismik yang terekam maka semakin besar koefisien refleksinya.

4Ilustrasi survey metode seismik.

Dalam penerapannya, metode seismik refleksi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode geofisika lainnya. Dengan seismik dapat diketahui dan dipetakan gambaran kondisi struktur bawah permukaan secara lateral maupun vertikal, dapat digunakan dalam studi stratigrafi dan beberapa kenampakan pola pengendapan, dapat digunakan dalam studi petrofisika (porositas, permeabilitas, kompaksi batuan), hingga memungkinkan untuk mendeteksi langsung keberadaan hidrokarbon (minyak dan gas bumi). Sehingga metode ini dijadikan sebagai salah satu garda terdepan dalam eksplorasi minyak dan gas bumi.

Namun, keunggulan tersebut juga diimbangi dengan beberapa kelemahan, mengingat survey seismik refleksi umumnya dilakukan dalam skala yang besar. Sehingga akan membutuhkan teknologi, biaya, waktu, dan tenaga yang relatif besar.

Kegiatan survey seismik (eksplorasi) dapat dikelompokkan dalam tiga serangkaian kegiatan/tahapan utama, yaitu :

1. Akuisisi Data Seismik
Akuisisi data seismik, tidak lain adalah tahapan pengukuran guna mendapatkan data seismik berkualitas baik di lapangan. Data seismik yang diperoleh dari tahapan ini akan menentukan kualitas hasil tahapan berikutnya. Sehingga, dengan data yang baik akan membawa hasil pengolahan yang baik pula, dan pada akhirnya, dapat dilakukan interpretasi yang akurat, yang menggambarkan kondisi bawah permukaan sebagaimana mestinya.

Untuk memperoleh data berkualitas baik perlu diperhatikan pemilihan desain survey dan beberapa faktor terkait. Dalam eksplorasi minyak dan gas bumi pada khususnya, ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan yang akan mempengaruhi kegiatan survey, termasuk juga kualitas data, yaitu :

  • Kedalaman jebakan hidrokarbon yang menjadi target
  • Resolusi vertikal
  • Kualitas refleksi pada batuan
  • Sumber gangguan/noise yang dominan
  • Ciri-ciri jebakan hidrokarbon
  • Kemiringan target paling curam
  • Kemungkinan adanya proses lain yang perlu dilakukan

Medan pengukuran seismik mencakup pengukuran di darat, di laut, dan di lingkungan transisi. Selain itu, survey seismik juga dapat dilakukan secara 2 dimensi maupun 3 dimensi. Masing-masing kondisi tersebut akan memerlukan desain survey dan teknologi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya.

5Survey seismik refleksi darat.

6Survey seismik refleksi laut.

2. Pengolahan Data Seismik
Pengolahan data seismik, pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah data seismik lapangan yang terekam menjadi suatu penampang seismik yang kemudian dapat dilakukan interpretasi darinya. Sedangkan tujuan pengolahan data seismik adalah untuk menghasilkan penampang seismik dengan kualitas signal to noise ratio (S/N) yang baik tanpa mengubah bentuk kenampakan-kenampakan refleksi/pelapisan batuan bawah permukaan, sehingga dapat dilakukan interpretasi keadaan dan bentuk dari struktur pelapisan bawah permukaan bumi seperti kenyataannya. Atau dapat dikatakan bahwa pengolahan data seismik didefinisikan sebagai suatu tahapan untuk meredam noise dan memperkuat sinyal.

Picture1Proses pengolahan data, dan data seismik mentah (raw data). (sumber:various)

3. Interpretasi Data Seismik
Dari pengolahan data seismik, hasilnya yang berupa penampang seismik kemudian diinterpretasikan/ditafsirkan. Tujuan interpretasi seismik adalah menggali dan mengolah berbagai informasi-informasi geologi bawah permukaan dari penampang seismik. Pada eksplorasi minyak dan gas bumi, interpretasi ditujukan untuk mengetahui lokasi reservoar hidrokarbon di bawah permukaan.

Pada umumnya, penampang seismik ditampilkan sebagai penampang waktu (time section), namun dapat juga ditampilkan sebagai penampang kedalaman (depth section) setelah melalui beberapa tahapan perhitungan tertentu.

interpretInterpretasi seismik. (sumber:various)

 

METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS

Posted in Geofisika with tags , , on February 15, 2015 by rachelyanna

Metode geolistrik merupakan salah satu metode dalam survey geofisika yang memanfaatkan perbedaan sifat kelistrikan berupa hambatan-jenis dalam batuan. Berdasarkan sumber energinya, sebenarnya metode geolistrik dapat diklasifikasikan lagi, menjadi :

1. Geolistrik Aktif (berdasarkan sumber energi buatan);

  • IP (Induced Potential)
  • Geolistrik resistivitas sounding
  • Geolistrik resistivitas mapping
  • Geoelectrical borehole tomography
  • Mise a la masse

2. Geolistrik Pasif (berdasarkan sumber energi alami bumi);

  • SP (Spontaneous Potential)

Hambatan-jenis/resistivitas adalah sifat/kemampuan suatu bahan untuk menghambat arus listrik yang melaluinya. Suatu bahan yang memiliki resistivitas yang semakin besar akan menjadikan arus listrik semakin sulit untuk mengalir. Resistivitas bertolak belakang dengan konduktivitas, dimana bila resistivitas besar maka konduktivitas akan kecil, begitu pula sebaliknya.

Batuan, sebagai suatu medium juga memiliki sifat resistivitas, yang beragam sesuai dengan jenis-jenis batuan. Oleh karena itu, dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan sifat resistivitas batuan tersebut, dengan metode geofisika ini kemudian dapat disediliki bagaimana kondisi geologis bawah permukaan. Variasi resistivitas batuan tersebut tergantung pada jenis batuan dan mineral, porositas batuan, kandungan fluida dalam pori-pori batuan (dapat berupa minyak bumi, gas, atau air).

1Rentang nilai resistivitas beberapa medium.

Pengukuran resistivitas dilakukan dengan instrumen berupa Resistivitymeter sebagai unit utamanya, dilengkapi oleh beberapa perangkat penunjang seperti batang-batang elektroda, kabel-kabel penghubung, sumber daya listrik (battery/accu), dll. Prinsip pengukuran geolistrik resistivitas ini pada dasarnya cukup sederhana. Mengacu pada Hukum Ohm, V=I.R, yaitu dengan menginjeksikan/menghantarkan arus listrik I ke dalam tanah (tanah/bumi sebagai medium hantar berhambatan R) melalui sepasang elektroda arus, dan mengukur beda potensial V yang timbul melalui sepasang elektroda potensial pada jarak tertentu dari elektroda arus. Resistivitas terukur umumnya dinyatakan dalam satuan Ohm-meter (Ωm).

Dalam penerapannya, metode ini digunakan dalam eksplorasi di beberapa bidang. Umumnya dimanfaatkan untuk mengetahui struktur bawah permukaan dan stratigrafi, untuk mengetahui sebaran endapan mineral tambang, untuk mengetahui lapisan akuifer dan muka air tanah, untuk mengetahui akumulasi minyak bumi di lapisan dangkal dan kontak fluida antara minyak dan air, untuk mengetahui reservoar geothermal, dan bahkan untuk mengetahui keberadaan candi terpendam.

 

TEORI METODE GEOLISTRIK RESISTIVITAS

Hukum yang mendasari metode ini adalah Hukum Ohm. Dalam penerapannya secara sederhana terhadap benda silinder berhambatan-jenis ρ, arus listrik I akan berbanding lurus dengan luas penampang A dan beda potensial antara ujung-ujungnya ΔV, serta berbanding terbalik dengan panjangnya L.3Penerapan hukum Ohm untuk arus listrik tunggal (homogen) yang di kedalaman (simetris bola), dimana arus listrik I yang menembus permukaan bola berongga dengan luas A, tebal dr, dan beda potensial dV antara bagian luar dan dalam.

5Sedangkan penerapan Hukum Ohm untuk arus listrik tunggal di permukaan (medium tak berhingga setengah bola), akan menghasilkan besar arus I :7 atau besar beda potensial V :9Untuk dua titik arus di permukaan medium setengah tak berhingga, maka beda potensial di antara dua titik adalah :11 12dimana arus listrik dilewatkan pada elektroda arus A dan B, dan beda potensial akan diperoleh/terukur pada elektroda potensial M dan N.

Persamaan turunan dari Hukum Ohm di atas menggunakan asumsi bahwa arus listrik melalui medium homogen, sehingga nilai resistivitas yang terukur (dengan konfigurasi elektroda apapun) akan memberikan nilai yang sama sebagai resistivitas medium sebenarnya (true resistivity). Pada kenyataannya, bumi sebagai medium hantar listrik tidaklah homogen, sehingga resistivitas yang terukur merupakan resistivitas semu (apparent resistivity). Resistivitas semu yang terukur dapat berbeda sesuai dengan konfigurasi elektroda yang digunakan dalam pengukuran.

Nilai resistivitas semu ρa merupakan fungsi jarak antar elektroda arus, yang sekaligus menentukan resolusi kedalaman bawah permukaan yang dapat diukur. Untuk jarak antar elektroda yang besar, ρa yang diperoleh akan mewakili nilai r batuan yang lebih dalam, begitu pula sebaliknya.

13Resistivitas semu : a) medium homogen semi tak berhingga, b) medium 2 lapis (ρ2>ρ1), c) medium lapis (ρ2<ρ1), dan d) medium 3 lapis (ρ2>ρ1, ρ3<ρ2)

 

KONFIGURASI ELEKTRODA

Konfigurasi elektroda yang umum digunakan, A dan B sebagai elektroda arus, dan M dan N sebagai elektoda potensial.14Faktor geometri dari masing-masing konfigurasi tersebut, yaitu :

  • Konfigurasi Wenner : K = 2πa
  • Konfigurasi Schlumberger :15
  • Konfigurasi dipole-dipole : K = n(n+1)(n+2)πa
  • Konfigurasi pole-dipole : K = 2n(n+1)πa
  • Konfigurasi pole-pole : K = 2πa

 

SOUNDING DAN MAPPING

Metode geolistrik hambatan-jenis dapat dilakukan secara sounding dan mapping. Sounding merupakan pengukuran perubahan resistivitas bawah permukaan pada arah vertikal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengubah/membuat variasi jarak antar elektroda arus dan potensial, pada titik pengukuran yang sama. Konfigurasi elektroda yang umum digunakan adalah konfigurasi Schlumberger.

Mapping atau Traversing merupakan pengukuran perubahan resistivitas bawah permukaan secara lateral (horisontal). Mapping ini dapat dilakukan dengan cara berpindah titik pengukuran, namun mempertahankan jarak antar elektroda arus dan potensial. Konfigurasi elektroda yang umum digunakan adalah konfigurasi Winner atau Dipole-Dipole.

 

PENGOLAHAN DATA DAN INTERPRETASI

Setelah dilakukan pengukuran (akuisisi data), data resistivitas hasil pengukuran tersebut kemudian dianalisa dan lalu ditafsirkan. Untuk data mapping, data resistivitas dapat langsung ditampilkan dalam bentuk peta kontur nilai resistivitas area pengukuran. Penafsiran pun dapat langsung dilakukan dari peta kontur tersebut. Sedangkan untuk data sounding, dapat dilakukan dengan curva matching maupun inverse modeling, yang kemudian dapat ditampilkan sebagai penampang model vertikal variasi resistivitas bawah permukaan. Bentuk penafsiran untuk tingkat lebih lanjut memerlukan integrasi dan pencocokan dari referensi nilai resistivitas jenis-jenis batuan dari hasil uji laboratorium atau berdasarkan tabel resistivitas batuan, dan dari informasi geologi yang terkait.

 

16Resistivitymeter beserta peralatan pendukungnya. (dok.praktikum)

17Pengukuran geolistrik resistivitas di lapangan. (sumber:www.mmtec.co.jp)

18Perbandinga profil penampang resistivitas dengan kondisi geologi di lapangan. (sumber:www.ggl.gmbh.de)

Metode Gravitasi

Posted in Geofisika with tags , , , , on February 14, 2015 by rachelyanna

Metode Gravitasi adalah salah satu metode dalam survey geofisika, yang termasuk sebagai metode pasif. Metode ini memanfaatkan perbedaan nilai medan gravitasi di permukaan bumi. Perbedaan/variasi nilai medan gravitasi tersebut kemudian dipetakan distribusinya.

Pada kenyataannya, medan gravitasi bumi di permukaan tidaklah homogen. Gravitasi sangat dipengaruhi oleh massa jenis benda, termasuk batuan penyusun kerak bumi. Batuan-batuan dengan massa jenisnya yang beragam tersebut akan mempengaruhi medan gravitasi bumi di permukaan.

Variasi medan gravitasi di permukaan pun dapat dipengaruhi oleh adanya struktur geologi di bawah permukaan, termasuk tidak meratanya kondisi topografi/relief permukaan bumi. Sehingga, posisi pengamatan juga memiliki pengaruh terhadap pengukuran. Pada dasarnya, segala kondisi geologis di bawah maupun di permukaan dapat mempengaruhi medan gravitasi bumi yang terukur.

12Gmbr. pengaruh struktur geologi, adanya penambahan dan pengurangan massa di bawah permukaan terhadap medan gravitasi di permukaan.

 

Jadi metode gravitasi merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui kondisi geologi/struktur bawah permukaan berdasarkan variasi medan gravitasi bumi di permukaan, yang disajikan dalam bentuk model bawah permukaan. Dalam bidang eksplorasi, dari model yang dihasilkan dapat diketahui anomali medan gravitasi yang bisa mengindikasikan adanya suatu akumulasi mineral tertentu, atau barang tambang yang ekonomis. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk mendeteksi adanya struktur geologi, batuan dasar (basement), kontak intrusi batuan beku/magma, rongga dalam massa batuan, endapan sungai purba, logam terpendam, dll. Metode ini memiliki sensitifitasi tinggi terhadap perubahan vertikal.

Variasi medan gravitasi di permukaan bumi, apabila dibandingkan dengan nilai gravitasi absolut sangatlah kecil. Namun, dengan teknologi alat ukur yang sangat sensitif dan presisi, perbedaan tersebut dapat diketahui. Teknologi ukur pengukuran gravitasi menggunakan alat Gravitymeter, yang memiliki komponen utama berupa pegas dengan kontruksi tertentu. Pengukurannya di lapangan, biasanya dilakukan pada titik-titik pengukuran di sepanjang lintasan pengukuran dalam suatu luasan area pengukuran. Biasanya juga diperlukan satu titik acuan bebas gangguan/noise (base station) yang akan digunakan sebagai unsur koreksi dalam analisa data (koreksi drift). Selain pengukuran di darat, pengukuran juga dapat dilakukan di laut dengan kapal, maupun di udara dengan pesawat.

3Gmbr. alat gravitymeter LaCoste&Romberg

Satuan pengukuran dalam metode gravitasi biasanya dinyatakan dalam gal (Galileo). Apabila dalam satuan SI (Satuan Internasional), g dinyatakan dalam m/s^2, dimana 1 gal = 1 cm/s^2 = 0,01 m/s^2. Gravitasi rata-rata di permukaan bumi sekitar 980 gal.

Data pengukuran medan gravitasi yang diperoleh akan mengandung anomali yang terdiri dari efek lokal dan efek regional. Efek lokal merupakan sasaran dari pengukuran mikro-gravitasi, dimana pengukuran ini dilakukan pada ketelitian pengukuran hingga satuan mikrogal (10/^-6 gal).Efek lokal ini membawa anomali medan gravitasi yang sangat dekat dengan permukaan.

 

Teori Medan Gravitasi

Teori yang mendasari metode ini adalah Hukum Gravitasi Universal NEWTON, yang menyatakan bahwa gaya tarik F antara dua titik massa m1 dan m2 yang berjarak r (dengan G adalah konstanta gravitasi) :4dan Hukum Gerak Newton, yang menyatakan gaya yang bekerja F dipengaruhi oleh massa m dan percepatan gravitas g :5 Dari kedua hukum tersebut, kemudian dapat diperoleh persamaan Percepatan Gravitasi di permukaan bumi g (dengan M merupakan massa bumi) :6

 

Potensial Medan Gravitasi

Medan gravitasi merupakan medan konservatif, yang merupakan gradien dari suatu fungsi potensial skalar U. Mengingat g sebagai medan vektor :7dan potensial gravitasi sebagai besaran skalar, sebagai U :8Potensial gravitasi U merupakan usaha yang dilakukan gravitasi dalam perpindahan suatu massa m ke posisi r.

Dari dua persamaan tersebut, sehingga diperoleh hubungan percepatan gravitasi g dengan potensial gravitasi U :9Potensial gravitasi yang disebabkan oleh adanya distribusi massa continue m dengan densitas ρ(r0) di dalam volume V adalah :10Up(r1) merupakan potensial medan gravitasi pada sembarang titik P di luar benda.

Percepatan medan gravitasi bumi beragam di permukaan, dimana nilainya bergantung pada :

  • Distribusi massa di bawah permukaan (fungsi densitas ρ(r0)).
  • Bentuk bumi yang sebenarnya (batas integral).

 

Anomali Gravitasi

Sebagaimana tujuan metode ini adalah untuk mendeteksi adanya suatu anomali medan gravitasi yang dapat mengindikasikan sesuatu. Secara matematis, dapat didefinisikan bahwa anomali medan gravitasi di topografi atau di posisi (x,y,z), (Δg (x,y,z)) merupakan selisih dari medan gravitasi terukur (gobs(x,y,z)) terhadap medan gravitasi teoritis (gTeoritis(x, y, z)). Medan gravitasi teoritis adalah medan yang diakibatkan oleh faktor-faktor non-geologi dan nilainya dihitung berdasarkan persamaan yang dijabarkan secara teoritis. Nilai medan ini dipengaruhi oleh letak lintang, ketinggian, dan massa topografi di sekitar titik tersebut.11

 

Koreksi-Koreksi dalam Metode Gravitasi

1. Koreksi Penyimpangan (Drift Correction)

Pengukuran di titik yang sama pada waktu yang berbeda dapat menghasilkan nilai medan gravitasi yang berbeda. Hal ini dapat disebabkan karena faktor alat, maupun faktor dari pasang-surut akibat gaya tarik menarik antara bumi dengan matahari dan bulan. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan melakukan Koreksi Penyimpangan, yang dapat dilakukan dengan metode :

  • Mengukur titik acuan (base station) secara berkala.
  • Mengasumsikan bahwa efek drift sebagai fungsi linear.
  • Pengukuran dalam area secara loop.12

 

2. Koreksi Lintang (Latitude Correction)

Posisi lintang bumi mempengaruhi medan gravitasi permukaan yang terukur. Hal tersebut disebabkan oleh bentuk bumi yang tidak bulat sempurna (pepat di ekuator), sehingga mengakibatkan nilai g di ekuator akan lebih kecil dibandingkan g di kutub bumi. Selain itu juga disebabkan karena pengaruh gaya sentrifungal akibat rotasi bumi.13Koreksi lintang dilakukan mengacu pada persamaan berdasarkan GRS-1967 (Φ sebagai lintang bumi) :14

 

3. Koreksi Kolom Udara-Bebas (Free-Air Correction)

Adanya beda ketinggian antara titik pengukuran dengan datum/muka air laut rata-rata (mean sea level) memberikan suatu masalah. Hal ini disebabkan karena medan gravitasi nomal masih berada pada bidang datum (z = 0) sedangkan medan gravitasi terukurnya, gobs (x,y,z), berada pada topografi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka dilakukan koreksi Udara-Bebas (CF), yang dinyatakan dengan persamaan (h sebagai ketinggian posisi pengukuran) :15 Hasil koreksi tersebut kemudian dapat diterapkan untuk memperoleh nilai anomali Udara-Bebas (ΔgF) : 16

 

4. Koreksi Bouguer (Bouguer Correction)

Pada penghitungan anomali Udara-Bebas, adanya massa yang terletak di antara titik pengukuran dengan datum tidak diperhitungkan, padahal keberadaan massa ini sangat mempengaruhi nilai anomali medan gravitasi.17Oleh karenanya, perlu dilakukan koreksi Bouguer untuk mengatasi permasalahan tersebut. Koreksi Bouguer (CB) dinyatakan dalam persamaan :18Hasil koreksi Bouguer ini kemudian dapat diterapkan untuk memperoleh nilai anomali Bouguer (ΔgB) :19

 

5. Koreksi Medan (Terrain Correction)

Kondisi topografi yang tidak beraturan di sekitar titik pengukuran akan mempengaruhi medan gravitasi yang terukur.20 Untuk mengatasi permasalahan tersebut dilakukan Koreksi Medan, yang dapat dilakukan dengan metode :

  • Rectangular Grid
  • Hammer Chart21

Dari koreksi Medan ini pada akhirnya akan dapat diperoleh nilai anomaly Bouguer Lengkap (ΔgB) (setelah menerapkan semua macam koreksi-koreksi tersebut), yang dinyatakan dalam persamaan :22

 

6. Proyeksi Ke Bidang Datar dan Atenuasi ke Atas

Anomali Bouguer Lengkap masih terletak pada topografi dengan ketinggian yang bervariasi. Oleh karena itu diperlukan suatu metode untuk membawa ke bidang datar. Salah satu metode tersebut adalah Sumber Ekivalen Titik Massa. Sedangkan Atenuasi ke Atas digunakan untuk memisahkan efek lokal dengan efek regional.

 

Interpretasi

Setelah dilakukan akuisisi/pengukuran data medan gravitasi di lapangan, melakukan analisa data (menerapkan koreksi-koreksi), langkah kemudian adalah menafsirkan hasilnya. Penafsiran dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.

Penafsiran ini mempertimbangkan :

  • apakah anomali akan ditampilkan sebagai penampang profil 2 dimensi atau peta kontur distribusi 3 dimensi.
  • mengantisipasi ambiguitas, diperlukan integrasi pemahaman dengan informasi geologi.
  • penafsiran dalam forward modeling atau inverse modeling

 

23Gmbr. Hasil survey gravitasi, menyatakan peta kontur Anomali Bouger Lengkap (kiri) dan Anomali Lokal (kanan). (gambar hasil fieldcamp geofisika ugm 2013, sengaja warna di-greyscale-kan)

gravGmbr. Survey gravitasi, yang dipadukan dengan GPS. (sumber pict.www.mmtec.co.jp)

GEOFISIKA

Posted in Geofisika with tags , , on February 9, 2015 by rachelyanna

Sebagai lulusan Geofisika, saya merasa bahwa ‘Geofisika’ masih terdengar asing bagi kebanyakan mereka khalayak umum (awam). Jadi apa itu geofisika?

Geofisika (Geophysics) merupakan suatu cabang ilmu kebumian yang mempelajari bumi dari sifat-sifat, prinsip-prinsip fisikanya. Sebagaimana seorang geofisika disebut geofisikawan (geophysicist). Apa yang dilakukan seorang geofisikawan? Singkat kata, kegiatan dalam geofisika adalah Survey Kebumian… survey, survey, dan survey! Survey ini mencakup kegiatan akuisisi data (pengukuran), analisa data, dan interpretasi. Survey/penelitian geofisika ini dilakukan untuk mengetahui kondisi bawah permukaan bumi, dengan cara melakukan pengukuran dari atas permukaan bumi terhadap parameter-parameter fisika batuan di dalam bumi. Dari pengukuran itu lalu dapat diinterpretasikan/ditafsirkan bagaimana keadaan/gambaran dari interior bumi.

 

strukturbumiSkema interior/struktur bumi (sumber:ensiklopedi sains-DK)

 

Penampang seismik sebagai gambaran kondisi geologi bawah permukaan.

 

Jadi, bagaimana dengan penerapan ilmunya? Sebenarnya ilmu geofisika dapat diterapkan secara luas selama berkaitan dengan Bumi (ada juga yang mengatakan bahwa meteorologi (udara) dan oseanografi (laut) juga termasuk). Namun dalam skala berbeda, geofisika umumnya diterapkan pada kegiatan bidang energi yaitu eksplorasi minyak dan gas bumi, mineral, dan bahan tambang seperti batu bara. Selain itu dalam hal mitigasi bencana alam (gunung-api, gempa bumi), atau dalam bidang sipil (geoteknik), maupun untuk penelitian sains alam.

Dunia Geofisika merupakan bidang yang memadukan ilmu Geologi, Fisika, Matematika, Elektronika, dan Pemprograman Komputer untuk mengerti bagaimana bumi itu. Memang terlihat kompleks, karena bagaimanapun juga bidang geofisika membutuhkan teknologi alat ukur yang presisi, sensitif, dengan objek yang diukur adalah bumi dengan sifat fisikanya yang khas.

Kegiatan geofisika dilakukan dengan menggunakan metode-metode tertentu, berdasarkan parameter fisika yang bersangkutan (seperti metode seismik/gempa, metode gravitasi, geolistrik, magnetik, dll). Pada dasarnya, metode geofisika dapat digolongkan menjadi Metode Aktif dan Metode Pasif. Metode aktif dilakukan dengan membuat suatu aksi (medan gangguan/usikan buatan) yang kemudian dilakukan pengukuran terhadap respon bumi terhadapnya, seperti dengan meledakkan suatu dinamit yang menghasilkan gelombang yang merambat melalui batuan bumi dan dari jarak tertentu akan diukur. Sedangkan metode pasif dilakukan dengan mengukur langsung medan fisika alami bumi. Lebih jauh lagi, dapat digolongkan juga menjadi metode seismik dan metode non-seismik. Dan lebih spesifik lagi, macam metode-metode geofisika dapat dijabarkan sebagai berikut (mengacu dari catatan kuliah) :

METODE GEOFISIKA

1. Metode Seismik;

a. Seismik Aktif;

Seismik refleksi; seismik refleksi laut, darat, transisi (laut-darat)

– Seismik refraksi; seismik refraksi laut, darat, transisi (laut-darat)

b. Seismik Pasif;

– Non-tremor; seismologi gelombang seismik (P,S,R,L wave), tomografi pasif

– Tremor; vulkanologi

2. Metode Non-Seismik;

a. Non-seismik Aktif;

– CS-AMT (Controlled Source – AudioMagnet0Telluric)

– CS-MT (Controlled Source – MagnetoTelluric)

– EM (Electromagnetic)

– IP (Induced Potential)

Geolistrik

– Georadar

b. Non-sesimik Pasif;

– Radioaktif (gamma-ray)

– Suhu

– SP (Spontaneous Potential)

– Magnetik

Gravitasi

– AMT (Audio Magnetotelluric)

– MT (Magnetotelluric)

 

Penjelasan singkat dan perbedaan antara beberapa metode tersebut, seperti yang saya pelajari, yakni :

metode gf(sumber : wikipedia)

 

Tidak sedikit yang bertanya,” apa beda geofisika dengan geologi?”

Geofisika dapat dibilang cabang dari ilmu geologi. Ilmu geologi itu sangatlah luas. Ditinjau dari bagaimana mereka bekerja, objek pengamatan seorang geolog adalah objek geologi di atas permukaan bumi, seperti singkapan batuan dan mineral, atau suatu bentang alam. Dari objek apa yang diperolehnya (secara langsung) kemudian sang geolog itu mampu memprediksikan kondisi geologi di atas dan bahkan bawah permukaan, sejarah geologis apa yang telah terjadi di daerah itu, tentunya berdasarkan kaedah-kaedah logis geologi. Sedangkan seorang geofisikawan, dia melakukan pengamatan dari atas permukaan, menggunakan teknologi (mungkin bisa dikatakan sebagai pengamatan tidak langsung) untuk memetakan gambaran di bawah permukaan bumi sebagai objek pengamatannya. Ya, hasil akhirnya berupa image (gambar) penampang kondisi bawah permukaan yang kemudian perlu ditafsirkan berdasarkan kaedah geologi dan fisikanya. Pastinya hasil geofisika dapat memperkuat hasil geologi, dan sebaliknya.

Sedangkan ditinjau dari perlengkapannya, biasanya geolog berbekal (standar) palu geologi, kompas geologi, jurnal pengamatan, peta. Dan bagi geofisikawan, selain perlengkapan standar geologi tersebut juga pastinya membawa peralatan sesuai metode geofisika yang akan digunakan, dimana terkadang cukup merepotkan dan memerlukan tim yang sedikit lebih banyak untuk membawa gulungan-gulungan kabel, aki mobil (bahkan aki truk), dan alat primernya yang tidak ringan dan perlu perlakuan khusus (hati-hati).

 

Seorang geolog dengan palu geologinya (sumber:www.geosc.psu.edu)

Tim geofisika dengan teknologi geolistriknya (sumber:dokumentasi praktikum)

 

Bicara mengenai prospek kerja, geofisikawan umumnya dapat mengabdi di sektor perminyakan dan gas bumi, pertambangan, mitigasi bencana alam, geotermal, seismologi, lingkungan.